Diem-dieman

sore ini seperti biasa, setelah aku pulang dari rumah sakit, aku mampir ke warung untuk membeli bahan lauk pauk yang akan kumasak hari ini. ku lihat hampir semua sayuran segar sudah habis di sana.
setelah kupikir-pikir aku buatkan saja sup, paktis, mudah dan cepat. aku tau papa kurang suka dengan sup. tapi bagaimana lagi? daripada tidak masak sama sekali.
nggak tau kenapa hari ini aku merasa lelah sekali. tapi sudahlah.
setelah istirahat dan menonton berita taufik safalas meninggal di televisi. aku segera mengolah masakan ku. dan akhirnya selesai juga.
pukul 21.25 papa pulang. ia tampak lelah dan manja seperti biasanya.
setelah kcium tangannya. dia minta aku untuk melepaskan sepatunya.
“perutku sakit dipakai membungkup mah” rayunya manja.
papa memang sangat manja. aku sebenarnya tidak keberatan dengan sikapnya tersebut dan secara tidak langsung sebenarnya aku lah yang telah membentuknya demikian. karena aku memang senang memanjakan dia. mungkin karena kami belum juga dikaruniai seorang anak makanya aku memanjakan dia seperti memanjakan seorang anak kecil. dan sikap itu pula yang justru sekarang sering dilakukan oleh suamiku.
aku beranjak dari depan televisi untuk melepas sepatunya. lalu kupeluk dia dan dia pu membalas dengan mengecup kening dan membelai rambutku.
ah…suamiku memnag sangat manis.
papa sedang membersihkan diri ketika aku menawarkan untuk mengambilkan dia makan malam.
“kuambilkan makan ya pah, mama tadi masak sup. soalnya di warung udah ga ada apa-apa lagi” kataku.
papa mengangguk, “tapi aku mau digorengkan telur dadar dengan dibumbui ya mah” pintanya. aku hanya mengangguk.
“soalnya kalau makan sup enaknya harus ada lauk atau paling tidak ada sambalnya, tapi mama pasti tidak membuat sambal kan?” lanjutnya lagi
aku hanya mengangguk, agak dongkol juga sih, tapi akhirnya kuturuti juga keinginannya.
setelah aku selesai memasakkan dia telur, aku masih sempat menawarkan minuman hangat seperti biasanya. tapi papa menolak dan hanya meminta disiapkan air putih dingi saja.
setelah makan, kami berdua tidur-tiduran, kami sempat memberi beberapa komentar soal penampilan beberapa indonesian idol yang sedang beraksi di panggung spektakuler di tv.
tiba-tiba papa membalikkan tubuh membelakangiku sambil memeluk bantal. sikap yang biasa dia lakukan jika lagi ngambek sama aku.
“pah…?, jangan cuekin mama dong” rayuku. papa diam saja
“pah…?” tanya ku agak kencang
“hmmm?” papa hanya menjawab dengan gumanan
“jangan cuekin aku dong” kataku lagi
“enggak” jawabnya pendek tanpa merubah posisi tidurnya
akupun hanya terdiam jenkel.
tiba tiba aku dengar papa membunyikan suara seperti anak kecil menangis, aku tau dia tidak menangis, hanya pura-pura karena hal ini biasa dia lakukan jika dia meminta sesuatu tetapi aku tidak beri.
“papa kenapa?” tanyaku
“papa sedih” jawabnya
“sedih kenapa?” tanyaku kembali
“papa ga boleh kitik-kitik mama lagi”,katanya.
aku terkejut mendengar itu, beberapa hari yang lalu kami memang pernah bertengkar masalah hal yang sama.
saat itu kami sedang bercanda-canda. dan tiba-tiba papa menggelitikku. padahal dia tau sekali aku paling tidak tahan dikelitik dan hal tersebut bisa membuatku reflek melawan atau berteriak kencang. saat itu aku berontak dan tanpa sengaja selangkangannya kena tendanganku. papa langsung otomatis melepaskan aku dan meringis kesakitan. antara rasa kaget dan kesal aku membentaknya.
“papa gila ya, tau kan kalau aku tidak suka dikelitik karena itu bikin aku tidak terkendali, bisa nggak sih tidak melakukan apa yang tidak aku suka?” bentakku.
mendengar bentakan refleks ku papa ngambek manja (satu hal yang paling aku benci dari dia, sangat tidak dewasa)
aku diamkan dia, karena aku tidak merasa salah. dan aku bosan harus memohon-mohon minta maaf untuk kesalahan-kesalahan yang dia lakukan. dan dia menjadi marah karena aku marah dan tidak suka dengan apa yang dia lakukan.
tragis kan.
aku bosan…!!! aku diamkan dia.
besok paginya dia kirim aku SMS, “maafkan papa ya ma, papa memang agak stress karena karir papa berantakan”
aku tersentuh membaca permohonan maafnya. sangat mudahkan mendapatkan maafku. sayangnya walaupun sangat mudah hal itu jarang sekali dilakukan oleh papa.
aku balas SMS nya dengan kata-kata bahwa aku sangat mencintainya. dan kamipun berdamai.
tapi malam ini??? kenapa papa mengungkitnya lagi. mengingat hal itu tak terasa air mataku mengalir. aku tau papa melihat air mataku, karena ia kemudian membalikkan tubuhnya kearahku tetapi tetap menjaga jarak dan menempatkan bantal besar sebagai pemisah antara aku dan dia.
melihat dia memergoki air mataku, aku jadi merasa tidak enak. lalu akupun membalikkan tubuhku membelakangi dia, agar dia tidak melihat air mata kesedihanku.
tak disangka papa malah berkata, “papa udah membalik malah balik membelakangi papa, mau balas dendm ya” katanya
aku terkejut mendengar kata-katanya, aku balikkan tubuhku tapi ternyata papa sudah membalikkan tubuhnya kembali dan kali ini ngambek beneran.
aku sedih sekali, hatiku sakit. seharian ini aku sangat lelah berkerja tapi aku masih usahakan untuk menyambut kedatangan papa dengan membersihkan rumah dan memasak agar saat dia pulang hatinya senang melihat rumah tampak bersih dan ada makanan dirumah.
tapi kenapa sikapnya seperti itu padaku
aku merasa ini tidak adil.
aku cape dengan sifat manjanya, aku cape dengan semua sikap konyolnya. aku jenuh…
nggak seperti biasanya, dimana jika dia ngambek seperti ini aku pasti akan merayunya habis-habisan dan memohon-mohon maaf padanya. kali ini aku diam saja dan tidur (toh memang sudah pukul 23.00, sudah waktunya tidur.
tengah malam aku terbangun, dan Ya Tuhan… papa tidak ada disampingku. dia memilih tidur di kursi dan pisah ranjang dariku.
aku sangat ngantuk untuk menyadari apa yang terjadi, aku terlalu bosan unuk peduli. aku lanjutkan tidurku sampai pagi (hal yang baru pertama kali aku lakukan jika diem-dieman sama papa), aku bersikap tak perduli.
bangun pagi aku lantas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja. dan seperti dugaanku, papa tidak mau bangun untuk mengantarkan aku. aku tau dia masuk sore hari ini, tapi biasanya dia selalu mengantarkan aku kerja. melihat dia masih tidur, aku memutuskan untuk berangkat kerja sendiri.
aku kadang heran dengan kejadian ini. sangat sepele tapi sangat sering terjadi dalam rumah tanggaku. hingga aku menjadi bebal dan bosan untuk merespon sikap nya yang menyebalkan dan selalu membuatku sakit hati.
aku mencintaimu papa tapi aku juga tidak suka dengan sikap kekanak-kanakanmu ini.

Tinggalkan Balasan